Presiden Minta Petani puasa Beralih ke Pertanian Modern

  • August 11, 2019
  • ubhe96

Kementerian Pertanian (Kementan) secara aktif jalankan usaha modernisasi pertanian bersama pengembangan teknologi pertanian, terasa dari perbenihan, langkah tanam, perhitungan pola tanam berbasis IT, hingga mekanisasi. Bagaimana melaksanakan puasa Pertanaman dan panen komoditas utama seperti padi dan jagung secara khusus dikembangkan penggunaan mekanisasi bersama alat mesin pertanian (alsintan) modern. 
 
Menurut Presiden, didalam 5 (lima) th. ini, Kementerian Pertanian telah membagi bermacam alat mekanisasi pertanian seperti traktor, excavator, dan bulldozer untuk yang daerah-daerah yang punyai lahan yang besar-besar seperti di Humbang Hasundutan, Sumatera Utara (Sumut).
 
“Saya kaget terhitung didalam satu kabupaten traktornya begitu banyaknya, excavator-nya begitu banyaknya, supaya lahan besar mampu dilaksanakan bersama mekanisasi peralatan-peralatan yang ada yang saya menyaksikan itu perlindungan dari Menteri Pertanian,” ujar Presiden Jokowi waktu berdialog bersama peserta Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pengendalian tata cara puasa wajib dan sunnah Kebakaran rimba dan Lahan Tahun 2019, di Istana Negara, Jakarta, Selasa (6/8), dikutip dari laman setkab.go.id
 
Untuk itu, Presiden menghendaki Bupati-Bupati yang punyai lahan yang mampu dilaksanakan secara bukan manual lagi, supaya menghendaki perlindungan ke Kementerian Pertanian tiap tiap th. bantuannya banyak,untuk alat-alat seperti itu.
“Jadi kami ubah petani yang telah berpuluh-puluh th. bersama untuk land clearing bersama langkah membakar diganti bersama pembersihan land clearing bersama traktor, bersama excavator tanpa harus memicu api,” tutur Presiden seraya menambahkan, di  APBD provinsi, APBD di Kabupaten/Kota ada semuanya.
 
“Berilah petani-petani kami bersama bersama mindset yang baru, pola pikir yang baru didalam bekerja, jangan biarkan mereka telah berpuluh-puluh th. kami masih menyaksikan petani yang enggak kemungkinan sudi land clearing 2 hektar dicangkul, enggak mungkin,” ujarnya.
 
Menteri Pertanian Amran Sulaiman menjelaskan didalam 4,5 th. paling akhir pemerintah telah jalankan pengadaan alsintan didalam jumlah besar dan memastikan visi mekanisasi pertanian modern. Menurut Mentan tidak kemungkinan capaian swasembada beras dan jagung waktu ini diraih bersama cara-cara tradisional. 
 
"Mekanisasi mempercepat langkah kerja cara menjalankan puasa petani, menggugah anak muda lagi ke pertanian, dan menambah mengolah pangan kami secara luar biasa. Pada th. 2014, level mekanisasi pertanian hanya 0,14. Pada th. 2018 tempo hari meningkat penting menjadi 1,68,” kata Amran. 
 
Kementan telah menguji efisiensi lima alsintan yang berbasis teknologi 4.0, yaitu atonomous tractor, robot tanam, drone sebar pupil, autonomous combine, dan panen olah tanah terintegrasi. 
 
Mentan mengimbuhkan alsintan berbasis teknologi 4.0 ini kalau dibandingkan alsintan konvensional menambah efisiensi waktu kerja berkisar 51 hingga 82 persen, dan efisiensi ongkos berkisar 30 hingga 75 persen. Karenanya Mentan memastikan Program Pertanian 4.0 terhadap bulan Juni 2019 yang lalu, sesuai arahan Presiden Jokowi. Diharapkan penggunaan Pertanian 4.0 mampu menambah efisiensi waktu kerja dan efisiensi ongkos secara signifikan, dan juga mengimbuhkan keuntungan bagi petani. 
 
"Jauh amat efektif dan untungkan petani. Efisiensi kerja bersama gunakan alsintan mampu nampak didalam waktu kerja olah tanah yang kebanyakan kalau manual perlu 320-400 jam/hektare, kini bersama alsintan hanya perlu 4-6 jam per hektare atau 97.4% lebih efektif dan cara puasa menghemat ongkos kerja hingga 40% (hanya 1.2 juta per hektare kalau pada mulanya 2 juta per hektare),” tutur Amran. 
 
Efisiensi waktu terhitung ibadah puasa ramadhan berpengaruh terhadap alokasi tenaga kerja yang selanjutnya dapat mempengaruhi efisiensi biaya. Berdasarkan uji yang dilaksanakan oleh Kementan, mekanisasi telah mampu menurunkan ongkos mengolah kurang lebih 30% dan disisi lain mampu menambah produktivitas lahan 33,83%.
 
"Selama th. 2014-2018, produktivitas tenaga kerja sektor pertanian meningkat 20,35%, dari sebesar Rp 23,29 juta per orang terhadap th. 2014 meningkat menjadi Rp 28,03 juta per orang terhadap th. 2018,” ujarnya.