Iklan Terkini

Mencapai Sukses Internet Marketing Berkat Artikel ...

Petani Mengadakan Syukuran

Presiden Minta Petani

Menikmati Pengalaman Baru Sholat Tarawih Pertama di Amerika

  • May 21, 2019
  • 260496

Liputan6.com, Washington DC - Pada Ramadan tahun ini, masyarakat muslim di Amerika Serikat mengemban ibadah puasa di tengah-tengah musim semi. Durasi berpuasa rata-rata mendekati 16 jam masing-masing harinya. Sejumlah persiapan juga dilakukan, baik jasmani maupun mental.

Jam puasa yang panjang di Amerika Serikat menjadi kendala tersendiri untuk sejumlah muslim asal Indonesia, terutama mereka yang baru kesatu kali menjalani Ramadan di Negeri Paman Sam. Mengingat, itu dengan kata lain ibadah salat tarawih pun akan dilangsungkan lebih malam dari pada di Indonesia.

Hasna Fadhilah menikmati salat tarawih agak larut, sebagaimana dikutip dari VOA Indonesia pada Senin (20/5/2019). Hal tersebut karena masa-masa magrib saja selama pukul 8 malam di Washington DC. Dosen IPDN Jatinagor yang sedang menjalani fellowship dengan Religious Freedom Institute tersebut merasa fobia untuk menjalankan salat tarawih, karena selesai pukul 10-11 malam. Qbeletin

"Dengan situasi ini, kadang saya cemas untuk pergi, namun lantas di hari ke-dua tarawih, dari komunitas masjid tidak sedikit yang menawarkan tumpangan ke rumah," kata Hasna Fadhilah.

Sementara itu, Irwan Saputra tidak pernah cemas akan masa-masa puasa Ramadan yang dapat mencapai 16 jam. Mahasiswa yang pun menjabat sebagai Wakil Presiden di Persatuan Mahasiswa Indonesia di AS (Permias DC) tersebut melaksanakan salat tarawih malam kesatu Ramadan di IMAAM Center, Maryland.

"Namun sebab lokasi yang paling jauh, malam selanjutnya saya salat di apartemen dengan sahabat yang pun muslim, dari Afghanistan. Saya tidak jarang kali jadi imam di salat kami," kata Iwan.

Maryam Nisywa sangat merasakan bepuasa 16 jam di Washington D.C., Amerika Serikat. Ia tetap menyangga lapar dan nafsu sepanjang hari.

Mahasiswa George Washington University itu, bersyukur dengan cuaca musim semi yang sejuk dan beruntung dapat mengemban tarawih bareng keluarga yang sedang menetap di Amerika.

"Semenjak hari kesatu tarawih, kami mengundang sejumlah kerabat dekat untuk mengemban shalat tarawih di lokasi tinggal kami," kata Maryam Nisywa.

Hal yang sama juga dirasakan oleh Rizki Harahap yang pernah bermukim di Jakarta dan Medan, kini tinggal di Durham, North Carolina. Beberapa masjid di kota lokasi Rizki kuliah mengadakan tarawih berjamaah.

"Menariknya, Duke University Centre of Muslim Life (CML) pun menyelenggarakan buka bersama, sholat tarawih berjamaah, dan pengajian sekitar Ramadan," jelas Rizki.

Sementara tersebut Mauliya asal Yogyakarta menangis terharu guna kesatu kali dapat menjalankan Ramadan dan salat tarawih kesatunya di Islamic Center of San Diego.

Mauliya mengungkapkan salat tarawih di tempat tersebut tampak laksana perpaduan antara Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah dan ia tidak merasa canggung guna menyesuaikannya.

"Sholat tarawih dilaksanakan sebanyak delapan rakaat, sama laksana orang Muhammadiyah, dan saat sholat witir mereka memakai bacaan doa qunut, sama laksana orang NU di Indonesia," kata Mauliyah.