Mudah Dibudidayakan, Sayur Pakcoy Menjanjikan Prospek Bisnis Yang Cerah

  • August 09, 2017
  • Nisa

Sayur Pakcoy merupakan sayuran hijau yang termasuk dalam keluarga besar sawi yang ada di Indonesia. Namanya sudah cukup dikenal sebagai bahan pembuatan sajian lezat. Pakcoy, pokcoy atau sawi sendok, begitu ia biasa disebut, merupakan sayuran dengan daun lebar dan berbatang cukup besar.

Bagi Anda pecinta kuliner Jepang, pasti sudah tidak asing lagi dengan sayur ini. Salah satu makanan yang memakai pakcoy adalah mie ramen. Mie ramen merupakan mie asal Jepang yang rasa kuahnya yang khas saat disantap. Biasanya untuk tambahan di atas mie ramen selain pakcoy ada ayam katsu, sayur pakcoy, tauge, daun bawang, dan telur rebus yang dibelah dua. Selain itu sayur pakcoy juga bisa ditumis.

Selain itu, pakcoy juga dikenal karena mengandung nutrisi yang bermanfaat bagi kesehatan tubuh, diantaranya vitamin A, vitamin K, vitamin C, flavonoid, karotenoid, folat, thiamin, doa sebelum dan sesudah wudhu asam pantotenat, fosfor, kalium hingga fitonutrien.

Saat ini, telah ada beberapa cara pembudidayaan sayur pakcoy. Seperti yang dilakukan warga di Desa Tumaluntung, Kabupaten Minahasa Utara, Sulawesi Utara. Masyarakat setempat memanfaatkan kotoran babi yang diubah menjadi pupuk kompos. Melalui Kelompok Karioka, masyarakat dikenalkan pola pertanian organik. Warga sekitar bisa membuat persemaian bibit organik.

Di halaman kecil yang dulunya merupakan lokasi pembuangan sampah, kini justru ditemukan beragam produk pertanian organik, seperti sayur pakcoy, seledri, kacang-kacangan, cabai, tomat, bawang, pisang, dan umbi-umbi lainnya.

Sejalan dengan yang dilakukan warga Minahasa, melalui Karya Masyarakat Mandiri (KMM), Dompet Dhuafa mencoba membantu mengembangkan lahan pertanian menjadi semakin produktif. Salah satunya seperti yang didapatkan sekelompok tani di bawah naungan Paguyuban Sumber Jaya Tani di Desa Sindangjaya, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.

Di atas lahan seluas 6 hektar yang berada di ketinggian 900-1.000 meter di atas permukaan laut, sedang digalakkan program Green Horti atau Mustahik Move to Muzaki. Lahan tersebut dikelola oleh 30 petani yang terdaftar dalam paguyuban. Masing-masing petani mengelola lahan seluas 2.000 m2 dengan rincian 500m2 untuk pertanian organik dan 1.500m2 untuk pertanian konvensional.

Komoditas sayuran segar yang ditanam di area ini, antara lain brokoli, wortel, pakcoy, buncis, kacang merah, timun jepang, kailan, bayam jepang, lobak, seledri, bit, selada, kol, kembang kol dan daun bawang. Dengan berbagai komoditas yang dimiliki, Dompet Dhuafa berharap hal ini dapat menggenjot penghasilan petani.

“Dengan tema gerakan zakat 360 ini diharapkan para petani sayur di Cipanas bisa meraih kemandirian ekonomi. Karena pemberdayaan yang integral, menyeluruh dan meliputi segala aspek bisa lebih efektif mengubah keadaan masyarakat miskin,” ujar Corporate Secretary Dompet Dhuafa Sabeth Abilawa,

Kecenderungan minat masyarakat yang lebih besar terhadap produk impor, menurut Sabeth dikarenakan kualitasnya yang terjamin. Hal ini meliputi pengemasan, pengolahan, serta penyortiran sayur mayur sesuai mutu kesehatan.