Tikus Belanda Goreng dan Kerinduan Pada Kupat Tahu Magelang

  • June 12, 2017
  • Salman

Farchan Noor Rachman selalu mengenang desanya dengan melankolis. Farchan lahir dan besar di Desa Paremono, Magelang, Jawa Tengah. Hanya berjarak 10 menit dari Borobudur. Kalau sedang masa panen tembakau, orang-orang akan sumringah. Itu artinya para warga yang sebagian besar adalah petani, punya uang untuk dibelanjakan.

Saat Ramadan tiba, Farchan kecil dan kawan-kawan seumurannya menyiapkan long bumbung, alias meriam bambu. Saat meriam disulut pertama, itu artinya sahur sudah datang. Mereka, para bocah kecil yang berbahagia itu, akan berkeliling kampung. Menabuh semua yang bisa berbunyi riang, bedug, kentongan, panci, malah gayung.

Sore datang. Anak-anak ini akan ikut pengajian, diakhiri dengan buka bersama. Kegiatan ramai-ramai ini dilakukan setiap hari, dengan sajian berbuka yang disumbang dari setiap kepala keluarga di desa. ucapan idul fitri Mayoritas warga di Paremono adalah Nahdliyin. Keluarga Farchan termasuk minoritas karena Muhammadiyah. Namun, mereka tak pernah ambil pusing soal ini.

"Kalau salat Tarawih kami ikut 23 rakaat," kata Farchan. "Uniknya, meski mayoritas warga di desa kami adalah Nahdliyin, kalau Ramadan mereka kadang mengundang mubaligh-mubaligh Muhammadiyah."

Saat Ramadan datang, Farchan Noor Rachman selalu mengenang tembakau, long bumbung, kupat tahu, dan bajingan di desanya. Selepas salat Tarawih, para bocah ini akan lanjut main petasan. Lalu disambung dengan tadarus, satu jus per malam.