Apa Mimpi Mahasiswa Pertanian untuk Pertanian Indonesia?

  • October 10, 2019
  • perguruantinggi

Pertanyaan ini sebenarnya tak hanya muncul di kalangan mahasiswa pertanian, namun juga di kalangan mahasiswa dengan konsentrasi pendidikan di bidang lainnya. Biasanya pertanyaan seperti ini muncul ketika pemuda-pemudi Indonesia memutuskan untuk kuliah. 

Mereka akan ditanyakan tentang cita-citanya dan apa yang bisa dilakukan pasca lulus dari pendidikannya, termasuk pendidikan tinggi/kuliah. Hal ini juga terjadi di kalangan mahasiswa pertanian.

Apapun dan dimanapun tempat kuliahnya, ketika mahasiswa tersebut diketahui mengambil jurusan/program studi (prodi) pertanian, pasti akan ditanyakan tentang harapannya sebagai mahasiswa pertanian. Kira-kira apa sumbangsih para mahasiswa pertanian tersebut untuk pertanian Indonesia?

Jika berbicara tentang pertanian di ranah akademisi tingkat perguruan tinggi (universitas/institut), maka lingkup pertanian adalah suatu bidang yang luas. Sehingga, pertanian dijadikan sebagai fakultas daripada sekadar jurusan.

Ketika, pertanian sudah menjadi bidang pendidikan yang luas, maka di dalamnya akan terdapat berbagai macam jurusan/prodi/peminatan. Sehingga, tidak hanya secara global mempelajari tentang pertanian, namun juga dapat mempelajari pertanian secara khusus---sesuai peminatan.

Kita ambil contoh sistematika fakultas pertanian di sebuah universitas yang ada di Indonesia. Yaitu, di Universitas Brawijaya (UB), Malang. Di universitas tersebut, terdapat dua program studi untuk S1 dan empat jurusan yang juga berlaku pula di S1.

Baca Juga : UNIVERSITAS NEGERI VS UNIVERSITAS SWASTA, MANA YANG TERBAIK?

Ada sedikit perbedaan antara Fakultas Pertanian (FP) dengan fakultas lainnya di UB mengenai prodi dan jurusan. Jika di fakultas lain antara prodi dan jurusan tidak ada perbedaannya. Sedangkan di FP, prodi berbeda dengan jurusan. Jika menyebut prodi, maka, kita seperti menyebut jurusan di fakultas lain.

Misalnya, ketika Anda punya teman kuliah di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), lalu ditanyakan tentang jurusannya. Maka, dia akan menjawab bahwa jurusannya adalah di antara Sosiologi, Ilmu Komunikasi, Ilmu Politik, dan lainnya.

"Implementasi itu akan terjadi ketika mahasiswa-mahasiswa tersebut sudah memiliki harapan yang pasti terhadap apa yang akan dilakukan"

Sedangkan di FP, jika Anda mengetahui istilah Agroekoteknologi dan Agribisnis, maka, Anda harus menanyakan tentang prodinya, bukan jurusan. Karena, jurusan yang berada di FP ini adalah seperti peminatan. Misalnya ketika Anda punya teman yang berkuliah mengambil jurusan Sosiologi (di UB juga) maka, yang Anda tanyakan tentang peminatannya akan dijawab antara Sosiologi Pembangunan dan Sosiologi Lingkungan.

Di FP, jurusannya ada empat. Yaitu, Budidaya Pertanian, Hama dan Penyakit Tanaman, Sosial Ekonomi dan Pertanian, dan Ilmu Tanah. Jika Anda ingin belajar tentang cara meningkatkan produksi pertanian, maka Anda diharapkan akan memilih jurusan Budidaya Pertanian. 

Apabila Anda ingin mempelajari perkembangan pertanian dan adanya hubungan antara perkembangan masyarakat dan perputaran ekonomi masyarakat di wilayah pertanian maka, sangat disarankan bagi Anda untuk mempelajari ilmu pertanian di jurusan Sosial Ekonomi dan Pertanian (jika ingin lebih akurat, bisa tanyakan ke mahasiswa FP-nya saja).

Sekilas, kita mulai mengetahui bagian luarnya tentang pendidikan tinggi di bidang pertanian dengan mengambil contoh di UB. Maka, saat ini kita bisa mulai memperkirakan tentang apa yang akan menjadi dorongan bagi para generasi muda di sekitar kita yang memilih untuk menjadi mahasiswa pertanian. Kira-kira, apa cita-cita mereka?

Baca Juga : Biaya Kuliah Perguruan Tinggi Swasta Di Jakarta

Salah satu jawaban yang terdengar secara acak adalah harapan untuk meningkatkan pertanian Indonesia dengan cara memanfaatkan perkembangan teknologi. Namun, jika membicarakan tentang teknologi pertanian, fokus kita mulai terpecah ke fakultas lain. Yaitu, Fakultas Teknologi Pertanian.

Di sini, kita bisa melihat bahwa ada upaya khusus dalam membangun generasi yang melek teknologi namun juga faham arti penting tentang pertanian bagi Indonesia. Maka, perlu sekali adanya mahasiswa-mahasiswa yang tidak hanya akan menjadi petani konvensional, namun juga menjadi revolusioner terhadap pertanian di Indonesia. Salah satu caranya adalah dengan memanfaatkan adanya teknologi.

Lalu, apakah pembahasan kita akan bergeser dari mahasiswa FP ke mahasiswa FTP? Tentunya tidak. Karena fokus kita adalah mahasiswa pertanian. Apakah itu kemudian harus selalu merupakan mahasiswa FP?

Berbicara tentang mahasiswa pertanian, memang akan identik dengan mahasiswa FP apalagi jika mahasiswa FP juga memiliki basis pengetahuan tentang pertanian lebih banyak dibandingkan mahasiswa FTP yang sepintas akan terlihat sudah fokus terhadap pembelajaran tentang teknologi. Hanya, yang membuat mahasiswa FTP ditarik ke ranah pertanian adalah karena teknologi yang dipelajari memiliki upaya dukungan terhadap pengembangan pertanian---khususnya di Indonesia.

Apakah mahasiswa FP tidak bisa melakukan hal yang sama---seperti mahasiswa FTP? 

Tentu saja bisa. Karena seperti yang disebutkan sebelumnya, bahwa di fakultas pertanian, kita mendapatkan adanya dua prodi. Yaitu, Agroekoteknologi dan Agribisnis. Melalui dua prodi tersebut, kita bisa berharap bahwa mahasiswa pertanian mempelajari dan mengetahui implementasi terhadap pertanian di Indonesia dengan dua basis besar tersebut.

Jika berada di biaya kuliah Agroekoteknologi, maka, akan ada pembelajaran tentang pertanian, lingkungan, dan teknologi. Sedangkan di Agribisnis, akan ada pembelajaran tentang pengelolaan hasil pertanian dengan baik untuk mencapai target keuntungan yang ideal bagi semua pihak (petani, rakyat, dan pemerintah).

Di sini sudah jelas bahwa mahasiswa FP bisa menjadi penyumbang tenaga dan ide dalam upaya memperbaiki, memperbarui, dan mengembangkan pertanian Indonesia. Namun, yang menjadi titik dilematis terhadap banyaknya mahasiswa pertanian (dan alumninya) adalah apa yang mereka lakukan untuk pertanian Indonesia?

Apakah hanya mengamati, menganalisis, dan mengomentari (fenomena pertaniannya)? Atau ada upaya nyata dalam menggerakkan sektor sentral kehidupan masyarakat Indonesia ini. Itulah yang perlu diketahui oleh masyarakat umum terhadap keberadaan mahasiswa pertanian. 

Bukan berarti mereka harus ditekan untuk membangun teknologi canggih yang dapat membuat pertanian Indonesia menjadi maju. Namun, secara mandiri (setiap mahasiswa pertanian) harus memiliki implementasi terhadap apa yang sudah dipelajari saat menjadi mahasiswa pertanian.

Baca Juga : Biaya Kuliah Perguruan Tinggi Swasta Jakarta

Implementasi itu akan terjadi ketika mahasiswa-mahasiswa tersebut sudah memiliki harapan yang pasti terhadap apa yang akan dilakukan ketika sudah diketahui sebagai mahasiswa pertanian. 

Apakah mereka akan seratus persen menggunakan ijazahnya untuk berbakti terhadap pertanian Indonesia, atau mereka hanya menjadikan ilmunya sebagai kebutuhan yang diperlukan sebagai masyarakat Indonesia---masyarakat agraris.

Pilihan kedua tersebut sebenarnya sangat penting. Karena, sebagai masyarakat agraris, kita perlu mengetahui hingga mengenali seluk-beluk pertanian di Indonesia bahkan internasional. Hal ini perlu, karena ketika kita menjadi bagian dari masyarakat agraris namun tidak mengetahui bagaimana caranya untuk hidup sebagai masyarakat agraris, maka, pergeseran terjadi dan semakin membesar. Yaitu, pergeseran dari masyarakat agraris menjadi masyarakat industri.

Memang, kehidupan industrial tidak akan bisa dihilangkan, bahkan semakin dibutuhkan. Namun, dengan adanya mahasiswa-mahasiswa pertanian yang dimiliki bangsa ini, maka, harapannya ada upaya yang tepat (dengan ilmu yang dipelajari) dalam mempertahankan kehidupan agraris ini di tengah-tengah kehidupan yang semakin modern.

Jadi, apakah mahasiswa pertanian punya cita-cita untuk pertanian Indonesia? Mampukah mewujudkannya Tips Memilih Kampus Setelah Lulus SMA?