Iklan Terkini

Penjualan Hasil Tani Menggunakanan Smartphone Idam ...

Jual Cabe Pelangi Murah 082133374742

Hutomo Mandala

Mengintip Cara Sukses Bertani yalla shoot Taiwan

  • March 07, 2018
  • azay

Taiwan miliki corak usaha tani yang berlainan dengan negara beda dalam memajukan bidang pertanian. Perihal ini pula sebagai argumen beberapa delegasi pertanian dari Indonesia berkunjung ke negara itu.

“Di Taiwan, tak ada middle-man yang ambil untung dari usaha tani, ” kata General Manager Wu-Feng Farmers' Association, Ching-Chien Huang, waktu menjawab pertanyaan Tim Delegasi Indonesia yang bertandang ke Taiwan, Rabu (28/2).

Menurut Ching Chien, peranan dari middle-man sebagai penghubung digantikan oleh asosiasi petani. “Tidak ada calo. Semuanya pedagang yang bergerak adalah anggota asosiasi hingga keuntungannya jadi punya semuanya anggota yang terbagi dalam petani sampai pedagang, ” kata Ching Chien. Dalam asosiasi tiap-tiap anggotanya berusaha keras, telaten, ulet, serta kompak dalam kerja sama.

Kepala Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian, Dedi Nursyamsi, menyebutkan, beberapa delegasi yang bertandang ke Taiwan ambil banyak pelajaran perlu dari langkah bertani di negara itu. “Khususnya masalah segi kerja sama, ” kata dia.

Dedi menyebutkan, segi kerja sama adalah hal yang paling susah diketemukan di negara beda, termasuk juga di Tanah Air. “Bekerja sama dalam tim yang besar dengan kompak, sinergis, terpadu, serta systematis belum juga jadi budaya kita, ” tutur Dedi.

Dia bercerita, di Taiwan, ada Council of Agriculture yang membuat, membina, serta menuntun Asosiasi Petani yang serupa dengan paduan grup tani atau gapoktan di Indonesia. Asosiasi ini dibuat dari mulai tingkat kecamatan (sub district), kabupaten (district), serta pusat (nasional).

Dibawah Asosiasi Petani, ada beragam grup produksi, seperti grup produksi padi, grup produksi sayur-sayuran, grup produksi buah-buahan, dan sebagainya. “Tergantung potensi daerah semasing, ” kata Dedi.

Asosiasi Petani di Taiwan juga memperoleh tuntunan dari Research serta Extention Center dibawah Council of Agriculture, hingga system usaha pertaniannya berbasiskan ilmiah.

Wu-Feng Farmer' Association di Taichung, umpamanya, melakukan bisnis komoditas padi. Mereka mempunyai beragam type usaha dengan aset yang begitu besar, diantaranya koperasi, toko, penggilingan padi, sampai pabrik minuman mengandung alkohol asal padi untuk sake, perbankan, serta asuransi. Tiap-tiap unit usaha dikelola tenaga profesional.

Berlainan sekali lagi dengan usaha yang berada di Bade, Kota Taoyuan. Asosiasi Petani di Taoyuan semakin banyak bergerak di komoditas sayuran. Dibawah Asosiasi Petani ini, ada beragam grup produksi sayuran, intinya sayuran daun berusia pendek, seperti pak choi, seledri, sawi, dan sebagainya.

Semuanya bagian usaha komoditas sayuran di Bade dikelola oleh Bade Farmers' Association yang sahamnya punya petani. Grup produksi yang terbagi dalam 10-20 orang petani konsentrasi menghasilkan sayuran, dari mulai pemrosesan tanah, pengairan, penanaman, pemeliharaan, sampai panen. Setelah itu, petani dari grup produksi jual hasil usahanya pada Asosiasi.

Sekian hari sebelumnya panen, Asosiasi lakukan uji laboratorium pada kwalitas product, diantaranya uji residu pestisida dalam sayuran. “Di Taiwan, uji kwalitas product sayuran begitu ketat. Ini perlu untuk melindungi keyakinan customer, ” kata Manager Bade Farmers' Association, Mr Lee.

Jika produknya lolos uji laboratorium, jadi produknya masuk grup sortir serta pengepakan. “Sortir serta pengepakan ini begitu perlu supaya customer memperoleh product yang berkwalitas, ” kata Ming-Hsin Lai, pakar agronomi dari Taiwan Agricultural Research Institute.

Setelah itu, Asosiasi juga akan jual product petani pada customer domestik ataupun export. Dengan alur sesuai sama itu, usaha sayuran di Taiwan begitu untungkan. “Pendapatan petani sayuran jauh melampaui orang kantoran, ” kata Lee.

Menurut Dedi, kerja sama ala petani Taiwan serupa Corporate Farming yang juga akan diperkembang di Karawang. “Sistem di Taiwan yang telah jadi tingkah laku (behavior) atau rutinitas (custom) itu juga akan diperkembang di Karawang jadi jenis, ” kata Dedi. (DN/Balitbangtan)