Sektor Pertanian Butuh Sentuhan Permodalan Fintech yalla shoot

  • January 28, 2018
  • rima

Ramainya financial technology (fintech) yang terakhir keluar didorong untuk melirik bidang pertanian jadi pilihan investasi. Kesempatan ini yang cobalah di tawarkan beberapa penyedia atau pengelola basis investasi di bagian pertanian, tak tahu itu memiliki bentuk berbentuk crowdlending, peer-to-peer (P2P) lending, crowdfunding atau yang lain.

Dalam arena CEO Talks dengan mengusung topik Value Investing in Agriculture Crowdfunding di Sapori Deli Restaurant, Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jenderal (Purn) Moeldoko menyebutkan, banyak potensi yang belum juga tergarap maksimal di bagian pertanian. Selanjutnya, Moeldoko mengajak orang-orang, terutama aktor fintech di bagian pertanian, bebrapa seringkali terjun ke lapangan untuk ketahui keadaan real yang dihadapi oleh beberapa petani.

" Silahkan saksikan segera ke lapangan. Anda juga akan lihat potensi yang demikian besar. Beberapa petani juga perlu sentuhan fintech supaya semakin maju serta berkembang, " tutur Moeldoko di Jakarta, Sabtu (27/1/2018).

Seperti yang telah dikerjakan dengan HKTI, lewat inovasi serta pengembangan tehnologi, Moeldoko juga selalu mengusahakan supaya beberapa petani dapat menembus bidang permodalan.

" Semodern apapun jaman, kita tetaplah perlu makan. Jadi tehnologi harus juga bertindak aktif di bidang pertanian. Akan tidak rugi apabila permodalan diarahkan ke tehnologi pertanian, " terang pria yang saat ini menjabat jadi Kepala Staf Presiden (KSP).

Disamping itu, Chairman & Co-Founder Tani Fund Pamitra Wineka serta CEO Vestifarm Dharma yang jadi pembicara, bercerita sekitar cerita awal membangun perusahaan startup Vestifarm. Semua diawali saat Dharma berkunjung ke satu desa di Sumedang, Jawa Barat, saat waktu itu ia berjumpa dengan seseorang peternak sapi bernama Mang Yon Yon.

Mang Yon Yon adalah peternak sapi yang tersohor di desa itu. Dharma terperanjat lihat tak ada seekor sapi juga di kandang punya Mang Yon Yon. Lantas Ia bertanya hal tersebut, tetapi Mang Yon Yon mengungkap yalla shoot bila ia telah tidak beternak sapi sepanjang sembilan bln. karna terbatasnya modal.

Mulai sejak tersebut, Dharma berkemauan untuk membuat basis Vestifarm yang dapat menolong petani serta peternak. Vestifarm sendiri mengaplikasikan rencana syariah berkaitan untuk hasil pada investor serta peminjam (petani atau peternak).

Dalam rencana itu, Vestifarm buat seperti kontrak untuk hasil pada investor serta peminjam dengan terpisah. Hingga selama ini, pendanaan yang sudah disalurkan lewat Vestifarm terdaftar sebesar lebih dari Rp 9 miliar.

Untuk mitigasi resiko, Tim Vestifarm juga lakukan survey segera ke tempat calon peminjam. Meskipun demikian, Dharma melanjutkan, resiko dalam berinvestasi di bidang pertanian tetaplah ada, umpamanya karena aspek cuaca. Terutama, Vestifarm tidak memakai asuransi dalam skema investasi yang ditawarkannya. Oleh karenanya, dalam kontrak hubungan kerja yang di buat, Vestifarm berisi klausul-klausul dengan detail.

Persoalan identik juga didapati oleh Wineka dalam meningkatkan platform-nya, yaitu Tani Fund. Ia berujar, sesungguhnya bidang pertanian yaitu penyumbang paling besar ke-2 Gross Domestic Product (GDP) Indonesia di th. 2016.

Meskipun demikian, menurut dia banyak potensi yang belum juga tergali maksimum dari bidang ini. Lahan pertanian darat, umpamanya, masih tetap mempunyai potensi sejumlah 14 juta hektare yang dapat dikerjakan. Belum juga untuk bidang yang terkait dengan kelautan. Umur beberapa petani juga beberapa besar (61%) lebih dari 45 th.. Hal semacam ini menunjukkan ketertarikan generasi muda pada bidang pertanian masih tetap rendah.

Diluar itu, problem rentenir juga jadi sorotan dianya serta tantangan sendiri. Untuk masalah ini, Tani Fund lakukan pendekatan mendidik pada rentenir yang nyatanya juga beberapa yaitu petani tersebut.