Iklan Terkini

DPR Garap RUU untuk Cegah Alih Fungsi Lahan Pertan ...

Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian: stok beras nas ...

Lahan

Daun sang, tanaman unik serbaguna yang semakin langka

  • January 12, 2018
  • rudianas

 Tanaman unik berdaun raksasa dari Sumatra tidak cuma Raflesia arnoldii. Pulau di Indonesia Barat itu juga miliki satu sekali lagi tanaman yang tidak kalah unik, daun sang.

Daun sang di kenal jadi flora endemik Sumatra dengan beberapa kekhasan. Walau potensinya belum juga banyak tergali, tumbuhan ini di ketahui berguna. Sayangnya, status daun sang sekarang ini termasuk juga tumbuhan terproteksi yang mulai langka.

Karenanya, kehadiran daun sang perlu untuk diketahui serta dikenali supaya bisa dilestarikan.

Kekhasan paling utama daun sang tampak dari cirinya. Daunnya memiliki ukuran raksasa selama hampir 6 mtr. dengan lebar menjangkau satu mtr.. Memiliki bentuk melebar di dalam dan meruncing dibagian pangkal serta ujung.

Karna ukurannya itu, daun itu juga dikatakan sebagai daun payung atau daun raksasa.

Apabila diliat dari jauh, daun sang seakan cuma terbagi dalam daun tanpa ada penopang batang. Ini karna ukuran batangnya yang pendek seringkali tersembunyi dalam tanah, hingga cuma daunnya saja yang terlihat menyembul ke permukaan.

Penampilannya juga cukup memikat dengan warna hijau berkilat beberapa serupa daun kelapa, serta keseluruhnya tanaman sama berlian. Permukaan daunnya bergurat serta tepiannya bergerigi. Tidak heran tanaman ini jadikan jadi tanaman hias.

Diluar itu, daunnya juga tidak tipis serta kuat. Karena itu orang seringkali memakai daun sang seperti payung membuat perlindungan dari hujan.

Bahkan juga, Daun Sang mulai sejak dahulu juga digunakan orang-orang di sekelilingnya untuk buat atap, pintu, sampai dinding tempat tinggal dan pondokan di ladang.

Seseorang narablog sempat bercerita pengalaman unik lihat semua sistem pembuatan tempat tinggal memiliki bahan daun sang. Menurut dia, pemrosesan daun sang simpel serta tidak susah.

Yaitu dengan memotong helai daun fresh dari mulai pangkal supaya tidak terbelah, lantas dijemur sekitaran 5 hari sampai jadi kering. Daun yang jadi kering lalu disusun membuat papan. Papan lantas diikat ke rangka kayu untuk jadikan dinding, atau dianyam jadi atap.

Cara itu dinilai efisien mengingat kemampuan daun sang tahan lama sampai bertahun-tahun, juga ramah lingkungan.
Diketemukan profesor Belanda

Daun sang diketemukan di pedalaman Sumatra pada awal era ke-19 oleh harga hp brandcode seseorang profesor botani asal Belanda bernama Teijsman atau Elias Teymann Johannes. Sesuai sama nama penemunya, daun sang dinamakan latin Johannestijsmania altifrons.

Tanaman ini adalah satu diantara empat spesies anggota genus Johannestijsmania, semacam pinang-pinangan atau palem (Arecaceae) yang tumbuh cuma di lokasi rimba Asia Tenggara.

Daun sang mempunyai banyak nama. Di Indonesia dimaksud sebagai daun payung, sang gajah, sang minyak (Sumatra Utara), serta daun salo (Riau). Di Malaysia di kenal dengan nama Sal, di Thailand dinamakan Bang Soon, serta di Inggris dimaksud Joey Palm, Diamond Joey Palm, atau Umbrella Leaf Palm.

Dengan luas, daun sang dapat dtemukan di ketinggian 85-175 mtr. diatas permukaan laut. Biasanya ada di lereng bukit daerah tropis dengan kemiringan 45 derajat, sampai lereng curam dengan kemiringan lebih dari 60 derajat.

Sifat uniknya yg tidak tahan panas juga buat tanaman ini cuma tumbuh di beberapa tempat yg tidak terkena cahaya matahari segera serta umum diketemukan dibawah naungan pohon beda. Umumnya pohon-pohon teduh, dengan berkelompok membuat rumpun.

Di Indonesia, Daun Sang diklaim jadi flora endemik Sumatra karna mempunyai penebaran yang begitu terbatas di dua tempat. Ke-2 tempat itu yaitu Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT) yang ada di Propinsi Riau serta Jambi, dan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) di Kabupaten Langkat, Sumatra Utara.

Pada ke-2 tempat itu juga tanaman ini tidak tumbuh di sembarang tempat.

Daun sang di lokasi TNBT ada di Desa Alim, Desa Sanglap, Hulu Sungai Metah serta Hulu Sungai Malau. Sesaat di lokasi TNGL, cuma ada di daerah Aras Napal, Desa Bukit Mas, Kecamatan Besitang.

Untuk penebaran di negara beda, daun sang diketemukan juga di Thailand Selatan serta Malaysia. Di Malaysia Barat, dapat didapati di Kelantan serta Johor Bahru. Di Malaysia Timur, dapat dijumpai di Sarawak.

Dulunya, sebelumnya th. 1940, daun sang menyebar di Aceh, Sumatra Timur, Kalimantan Timur, juga Sumatra Barat.

Tetapi, populasinya lalu berkurang--bahkan punah di sebagian daerah--karena pembudidayaannya termasuk susah. Tanaman ini menuntut keadaan rimba yang baik serta mempunyai persyaratan spesifik untuk tumbuh serta berkembang.

Terutama dengan terdapatnya pemakaian daun yang terlalu berlebih, juga pembukaan tempat, penebangan liar, serta pembakaran rimba yang semakin ramai, makin mengakibatkan kerusakan pohon-pohon teduh yang menaungi daun sang.

Semuanya hal tersebut punya potensi buat tanaman unik ini jadi makin langka atau jadi tinggal jadi masa lalu.